Kamis, 25 Juni 2015

MAU CEPAT KERJA? MASUK SMK NEGERI 9 JAKARTA AJA




Kebetulan pas mimin cari tahu mengenai smk negeri 9 pada prestasi tahun yang lalu-lau di Google, mimin nemuin sebuah laporan yang dimana menjelaskan bahwa dengan masuk kedalam sekolah smk negeri 9 kita mendapatkan pekerjaan dengan mudah, Yukk dibaca bair lebih jelasnya.



Mau Cepat Kerja, Masuk SMK Negeri 9 Jakarta.

Belum juga lulus ujian akhir, sekitar 80 persen siswa SMK Negeri 9 Jakarta sudah 'dilirik' banyak perusahaan di Jakarta untuk ditarik bekerja. Sisanya, ada yang meneruskan kuliah, menikah ataupun memilih bekerja ke luar negeri. Hal ini pula yang menjadi alasan Yudistira, Andi Mariam dan Icha Solicha memilih sekolah di SMK. "Soalnya, di dunia luar banyak yang bilang, kalau mau cepat kerja, masuk SMK 9 aja," cetus Andi.

Tidak semua sekolah kejuruan menyiapkan bekal yang cukup bagi siswanya untuk bisa diterima bekerja di perusahaan-perusahaan ataupun instansi pemerintah. Lokasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 9 yang semula bernama SMEA 5 ini terletak di pusat niaga Glodok dan Mangga Dua memang sangat strategis untuk pengembangan kurikulum dan sinkronisasi praktek kejuruan. SMK Negeri 9 ini termasuk dalam kelompok Bisnis dan manajemen, dengan program studi Akuntansi, Sekretaris dan Penjualan.

Menurut Gindo Sihombing, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, daya serap lulusan SMK 9 bisa mencapai 80 prosen diterima di dunia usaha, terutama perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa. Hal ini dilatarbelakangi kehidupan siswa yang telah memiliki bekal wiraswasta oleh pendidikan di keluarganya, sehingga sekolah hanya meningkatkan potensi yang telah dimiliki oleh siswa.

"Biasanya mereka yang sudah lulus dan mendapat pekerjaan, datang sendiri ke sekolah untuk merekrut adik-adik kelasnya bekerja. Hal ini tentu saja makin memudahkan bagi kami menyiapkan lapangan kerja bagi siswa," ungkap Gindo.

Prestasi yang cukup besar di masyarakat ini pula yang mendorong Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) untuk menjadikan SMK Negeri 9 sebagai sekolah binaan. Khususnya siswa SMK jurusan Penjualan dikelompokkan dalam kelas wirausaha. "Sebelumnya, sekolah binaan ini telah pula diterapkan SMK 47 sekitar 3 tahun lalu. Sedang di sekolah kami saat ini masih dalam tahap proses menunggu dana yang sampai saat ini belum cair," cetus Sri Rahayu, wakil Kepala sekolah bidang Humas.

Menurut Sri, untuk mencapai target sesuai kesepakatan dengan LPMP, hal pertama yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah mencari bibit siswa yang nantinya dikelompok kewirausahaan.
 "Target yang dicapai 8 orang, tapi peminatnya mencapai 28 orang," tukas Sri Rahayu menambahkan, "oleh karena itu kami menyeleksi terlebih dahulu siswa yang berminat ini, agar lepas dari sisi bias menciptakan lapangan kerja baru."
Kelas kewirausahaan ini, ungkap Sri, rencananya bakal menerima bantuan modal dari LPMP sebesar Rp 4 juta. Modal tersebut bisa dibelikan produk berupa bahan-bahan kebutuhan sehari-hari ataupun voucer (kupon isi ulang) untuk dijual kembali ke pasaran. "Untuk tahap pertama, akan kami berikan Rp 1 juta sebagai modal pelatihan, pemberian materi, bahan-bahan dan alat-alat sebelum mereka benar-benar membuka dunia usaha."

Perlunya siswa SMK Negeri 9 mendapat pekerja usai menamatkan sekolah, ungkap Gindo, ditopang dengan kehidupan keluarga siswa yang ekonominya umumnya pas-pasan. Oleh karena itu, tak sedikit siswa yang memiliki keinginan harus mendapat perkejaan setelah lulus ujian. Semangat inilah yang memacu mereka untuk aktif terjun ke lapangan, berbekal pengalaman sewaktu magang di kelas II melakukan Praktek Kerja Dunia Industri.

Yudistira misalnya, siswa kelas III yang juga mantan OSIS ini merasa tertantang untuk segera menyelesaikan sekolah dan diterima bekerja di perusahaan manapun, karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan baginya meneruskan kuliah. "Setelah lulus sekolah, rencana saya ingin kerja dulu 2 tahun, baru melanjutkan kuliah," cetus anak keenam dari tujuh bersaudara yang ayahnya bekerja sebagai nelayan ini.

Demikian halnya dengan Andi Mariam, Icha Solicha maupun teman-teman di SMK Negeri 9 lainnya. Sebagian besar mereka berpendapat dengan bekerja berarti meringankan beban keluarga dan menjadi jalan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. "Kalau sudah punya modal dari hasil bekerja kita kan bisa meneruskan sekolah ke perguruan tinggi. Yah kalau bisa sih, kerja sambil kuliah," cetus Andi dan Icha. RW

Laporan: Rahmawati


0 komentar:

Posting Komentar

Menu :