This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 25 Januari 2018

Cara Membuat Logo Dengan PicsArt


Cara Membuat Logo Dengan PicsArt


Jurlan tips.com

Langkah-Langkah :

1) . Masuk ke aplikasi PicsArt

2) . Pilih tanda + untuk menambahkan sesuatu

3) . Lalu pilih menu gambar

4) . Kemudian “buat baru” dan pilih ukuran gambar,   misalnya ukuran “1024 x 1024” atau 1:1laluklik

5) . Selanjutnya klik ikon “ ” lalu klik ikon “ ” dan garis warna hitam

6) . Kemudian klik ikon “ ” pilih ukuran lingkaran “isi” dan “oke”

7) . Lalu klik ganti warna putih, untuk warna lingkaran

8) . Kemudian tarik lingkaran dan sesuai ukuran yangdiinginkan

9) . Lalu klik ikon “ ” dan pilih ukuran lingkaran “coretan” dengan ukuran yangdiinginkan

10).Kemudian tarik lingkaran untuk bagian luar lingkaran isi

11).Lalu ganti warna lingkaran “coretan” dengan warna hitam untuk bagian dalamlingkaran isi

12).Setelah selesai membuat lingkaran logo lalu klik

” dan pilih mode “ ” edit gambar

13).Kemudian klik ikon “ ” untuk membuat tulisan yang diinginkan kolom, misalnya“Jurlan Tips”

14).Kemudian ganti warna dan font tulisan yang diinginkan

15).Jika sudah selesai klik “

16).Selanjutnya klik ikon “ ” Gambar

17).Lalu klik ikon “ ” Dan pilih ikon “

18).Pilih ikon ’’ ” Lapisan foto untuk menambahkan background yang diinginkan

19).Kemudian klik ikon “ ” Dan kemudian letakkan gambar background yang dipilihdibawah logo tadi

20).Lalu atur keburaman logo agar background tadi terlihat

21).Setelah itu klik “ ” dan pilih “ simpan gambar

22).Selesai dan silahkan lihat di galeri anda

Sacrifice



Bisa kalian jelaskan tentang makna kata itu?

Kami melakukan banyak hal gila diluar sana, lalu apa yang mampu kita lakukan?
Melihat semua kejadian yang mencekam bahkan menyakitkan, lalu apa yang mampu kita lakukan?
Kami pergi mengembara setiap harinya mencari apa yang perlu dibangkitkan dan apa yang perlu ditiadakan.
Bulan mengitari semua isi jagat raya menuntun akan cahaya langit indah.
Berikan satu hal yang betapa pentingnya untuk orang lain, namun kalian menginginkannya.
Bayangan-bayangan yang menghantui untuk keikhlasan yang diperbuat.
Mata, tangan dan raga itu mengetahui semua yang ada.
Bisa kau ketahui mana yang mampu kau korbankan?
Dengan hatimu yang sekeras batu lalu dimana pengorbanan itu diletakan.
Melihat yang bernapas dan merasakan detak jantung yang ada, lalu dimana pengorbanan itu.
Tersirat di cahaya bahwa kita merelakan sesuatu untuk seseorang yang dikasihi, lantas apa yang kita dapatkan?
Katakan bahwa kau melakukan dengan sepenuh hatimu.
Kita pergi mencari sesuatu yang baru kemudian melupakan yang terjadi dimasa lalu.
Apakah itu sebuah makna dari berkorban?
Setengah hatimu diletakan pada apa yang kau berikan, membawa separuh sisa yang ada membentuk serpihan kehormatan yang baru.
Egois datang, bergerak menghujani pikiran untuk suatu malam dan menghilang saat kau terbangun.
Orang-orang setiap hari berlalu lalang mengambil keputusan untuk melindungi diri demi mendapatkan yang diinginkan kemudian diberikan untuk orang lain.
Maka katakan apa ada perubahan?
Saat kau mengikhlaskan sesuatu itu kepada orang lain.
Dimanakan balasan dari semua itu?
Katakan bahwa itu semua bukan sesuatu yang bodoh.
 
Karya: S.N

Hijrah Sebuah Cinta


 

Aku pikir awalnya jarak dan waktu tidak akan membuat hubungan kami bermasalah. Ya, hubungan tanpa status yang kujalani dengan Bagas selama hampir enam tahun ini. Nyatanya, ia hilang tanpa kabar setelah mengatakan jika ia sedang sibuk menyusun skripsi dan dia juga berkata… ingin menenangkan pikiran dulu -yang artinya adalah tidak ingin diganggu dengan hubungannya denganku dulu. Aku pikir waktu itu, mungkin benar juga, lebih baik tidak contact terlebih dulu. Saat itu aku pun sedang sibuk dengan pekerjaanku dan great something. Itu, sekitar tujuh bulan yang lalu. Namun, lama aku menyadari, jika aneh rasanya Bagas tidak ada sekalipun memberiku kabar. Aku merasa ia menyembunyikan sesuatu dariku.

Beberapa minggu lalu, aku iseng bertanya melalui chat pada temanku -Mbak Nadin- yang satu kampus dengan Bagas di fakultas kedokteran. Aku bertanya: Apa Bagas sedang dekat dengan gadis di sana? Mbak Nadin menjawab jika ia mendengar gossip kalau Bagas menyukai anak fakultas kebidanan bernama Mufaisha. Gadis idola di kampus mereka karena cantik dan kesalihannya. Mufaisha adalah anak yatim dari keluarga sederhana dan karena, kecerdasannyalah ia mendapat beasiswa untuk mengenyam bangku kuliah.

Sontak setelah itu aku membandingkan Mufaisha dengan diriku sendiri. Seperti besi dengan intan permata. Berbeda jauh. Jelas saja, Bagas akan memilih Mufaisha.

Kabar lain yang kudapat adalah perubahan Bagas yang lebih baik. Lebih baik di sini adalah perilaku Bagas jadi lebih alim. Aku menyimpulkan, Bagas berubah untuk bisa bersanding dengan Mufaisha.

Perempuan baik teruntuk pria baik juga, benar kan?

Aku menghela napas kasar seraya melempar kerikil di genggamanku ke tengah-tengah laut.

Aku menoleh menatap Risma. “Tumben ngajak main ke pantai, Ris? Kamu emang nggak sibuk? Udah ijin sama mas Akbar?”

Perempuan berjilbab lebar warna coklat itu menyunggingkan senyumnya yang hangat. “Malah, mas Akbar semangat banget buat ngizinin aku keluar sama kamu. Supaya kamu nggak setres, katanya” Risma tertawa pelan.

Aku menatap Risma tajam. Lalu berikutnya, aku mendapati perempuan itu nyengir lucu.

“Aku kangen sama kamu sekalian refreshing gitu. Aku mau dengerin curhatan kamu plus ngasih wejangan lagi buat kamu,” lanjut Risma penuh nasehat dan canda.

Ah, Risma memang sahabatku yang paling mengerti.
 
Melihatnya dengan jilbab anggunnya itu, aku berpikir, kapan aku akan menyusul jejaknya? Apa Bagas akan kembali padaku jika aku memakai jilbab, memperbaiki sifat manjaku dan sifat-sifat burukku yang lain? Ugh, tapi untuk saat ini aku belum berniat sama sekali menutup aurat.

Aku mendekat padanya dan memeluk dari samping. Lantas menggumam di dekatnya, “kamu beruntung ya, Ris. Impian kamu dari dulu udah terwujud; punya suami yang saleh dan bisa bimbing kamu meraih surgamu.”

“Dulu malah, aku yang beranggapan kamu yang beruntung dibanding aku, Ndai,” ujar Risma, tangannya bergerak menepuk pipiku pelan, perlahan tangannya bergerak mengusap rambut sebahuku. “Kapan kamu mau menutup aurat? Ayo, Ndai berjuang sama-sama di jalan Allah sama aku. Aku nggak mau kamu nyesal di lain hari.”

Aku mendengus kecil. Aku berjalan agak menjauh dari Risma lalu menatap langit. Jujur mataku berkaca-kaca saat ini. Entahlah kenapa masih ada sedikit ragu di hatiku.

Risma menepuk pundakku dari belakang. Ia menghela nafas lalu berucap, “kamu tau kan, Ndai, kalau menutup aurat itu diwajibkan. Dulu … kamu pernah bilang padaku ‘kan, setelah kamu masuk Islam, kamu akan menutup aurat, ini sudah setahun berlalu loh.”

Aku mengingat saat-saat aku mengucap dua kalimat syahadat dulu. Rasanya cintaNya menyusup ke tulang-tulangku, menggetarkan jiwaku yang kosong bertahun-tahun. Mengisi kekosongan hidupku yang yatim-piatu sejak kecil. Allah telah mengisi hatiku dengan cintaNya tanpa kusadari.
Aku membalik badan, menghadap pada Risma yang saat ini menatapku dengan berkaca-kaca. “Ak aku ragu, Ris. Aku takut nggak bisa istiqomah.”

 
Risma membacakan sebuah ayat Al-Qu’an. Aku sepertinya tahu ayat ini, ini … surat Al-Ahzab ayat 59. Ayat yang menjelaskan penting dan wajibnya berjilbab bagi perempuan muslim.

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
 
Aku langsung menubrukkan tubuhku pada Risma. Memeluknya erat. Allah, aku sudah terlalu jauh darimu. Aku berbisik lirih di dekat telinganya, “aku mau, berhijrah kayak kamu Ris tapi, apa … Allah mau menerimaku? Mau menerima keterlambatanku meraih keridhoanNya?”

“Jangan meragukan kebesaran Allah, Cindai. Allah adalah sebaik-baiknya tempat kamu meminta. Allah juga Maha Pemaaf. Asalkan kamu bersungguh-sungguh, maka InsyaAllah, Allah akan memaafkanmu dan tidak ada kata terlambat bagi orang yang sungguh-sungguh bertobat.”

Aku mendongak menatapnya sendu. “Terima kasih, Ris, kamu sudah mau jadi sahabat yang mengerti aku. Selalu mengingatkanku ketika aku salah.”

Senyum tersungging di bibir Risma. “Nah, begitu dong. Kamu harus meniatkan diri kamu, kalau hijrah kamu ini lillahita’ala, ikhlas hanya karena Allah semata. Bukan untuk siapapun yang lain. Ikhlaskan Bagas, Ndai. Kalau jodoh nggak akan kemana.”

Risma mengeluarkan sebuah kain dari dalam tasnya. Saat ia mengulurkannya padaku, baru kutahu kalau itu adalah sebuah kerudung berwarna merah jambu. Ia mendekat dan mengenakan kerudung itu padaku. Aku tersenyum memegang kerudung yang kini menjulur panjang di atas perutku.

Aku menatap Risma dengan mantap. “Aku akan mencoba mengikhlaskan dia,” ucapku dengan nada suara bergetar menahan air mata. “Dengan ini pilihanku tidak akan salah. Aku … akan meneruskan S-2 ku di Kairo.”

Risma menatapku bahagia dan menepuk lenganku yang dilapisi jaket coklat muda. Aku bisa merasakan kebahagiannya itu dari matanya yang menjadi pusat kejujurannya.

Sebuah salam menginterupsi pembicaraanku dengan Risma. Aku membalikkan badan dan yang kudapati adalah Bagas dan adiknya dengan senyum lelaki itu yang kurindukan selama ini. Hampir saja aku berlari ke arahnya untuk memeluknya jika Risma tidak berdeham keras menyadarkanku pada kenyataan.

“Waalaikumussalam. Menatap seseorang yang berlainan jenis dengan syahwat -rasa ingin memiliki- itu termasuk dalam zina-nya mata. Adalah zina seburuk-buruknya jalan.”

Aku menatap Risma malu. Baru saja aku ingin berhijrah tetapi, aku sudah hampir melakukan kesalahan.

Aku segera menjawab salam tadi. Wajahku kudongakkan, menatapnya lurus. “H–hai!” sapaku dengan kaku. “Apa kabar?”

Bagas menatap Risma sekilas lantas beralih padaku. Wajahnya terlihat sekali jika ada yang hendak dibicarakannya. Senyumnya terbit dengan kaku. “Baik.”

 
“Ah! Sepertinya kalian berdua butuh waktu untuk bicara. Melihat Bagas datang bersama dengan adiknya, aku akan meninggalkanmu bersamanya, Ndai. Ingat jangan melakukan hal aneh-aneh! Kau sudah berjanji padaku dan dirimu sendiri, ingat!” Risma pergi setelah menguluk salam.
 

Aku memilih duduk di bebatuan yang ‘tak jauh dari tempat semula dan Bagas serta adiknya mengikutiku.

“Ada yang ingin kubicarakan. Aku yakin, kamu sudah tahu dari Mbak Nadin tentang–”

Bibirku bergetar dan tanpa sadar menyahut, “Ya, aku sudah tahu.”

“Maaf, Ndai,” ucap Bagas. Kepalanya terangkat. Menerawang jauh ke langit. “Maaf selama ini aku telah menjadi pengecut. Maaf telah mengkhianatimu. Hatiku yang sempit terlalu takut menyakitimu, Ndai. Tapu, aku tidak ingin bermunafik, kalau, aku jatuh cinta pada kesalihannya. Maaf. Aku tidak berharap kamu mau memaafkan aku karena, aku memang tidak pantas untul dimaafkan. Maaf telah menghilang di saat kamu butuh arahan dariku.

“Dan minggu depan … aku akan menikah. Aku harap kamu mau datang.”

Mataku berkaca-kaca mendengar ucapan Bagas. “Tidak apa, Gas. Aku sudah memaafkanmu. By the way, selamat, ya. Semoga kamu bahagia dengannya. Dia memang pantas untukmu. Aku ikhlas kamu bersamanya,” ucapku dengan senyum kaku. “Dan maaf, aku nggak bisa datang. Jangan khawatir, do’aku selalu menyertai pernikahanmu. Do’a kan aku pula, Gas. Supaya aku bisa lebih baik dari sebelumnya.”

Allah, seperti inikah rasanya jatuh dari cinta yang salah? Allah, seperti inikah rasanya menjadi orang yang terbuang? Seperti inikah rasanya mencintai dengan cara yang salah? Tunjukkan padaku, ya Allah, jalanMu! Beri aku kesempatan untuk rebah di pelukMu. Tunjukkan padaku, yang kata orang cintaMu lah yang sebenar-benarnya cinta. Kekal tanpa terbatasi oleh masa. Allah, aku inginkan cintaMu, izinkan aku berlutut menyerukan namaMu di antara cintaMu.

Puisi Sementara Hanya Senentara


Sementara Hanya Sementara
 
 
 
Ketika sunyi terdiam dalam kebisuan
Tak ada yang bisa tergantikan
Tapi dengan tak terduga
Rasa itu datang dengan kepercayaan
Hingga akhirnya hati ini terbuka
Menanti kepastian.
 
Disaat kata itu terucap semua terasa Indah
Bersama Rasa yang kian membuncah
Semua tersenyum dalam keramaian
Dan tertawa dalam keheningan
Membawa lelucon yang bagaikan sebuah syair menenangkan
Menghapus aliran kesedihan yang mengalir.
 
Dirimu bagai pelindung yang menjanjikan.
Membuat ku terbuai dengan kericuhan yang membuncah dihati.
 
semua terukir dengan kata
Tertulis dalam kalimat
Dan terucap dalam Frasa.
 
Setiap hitungan detik seakan membawa kenyataan yang tak pernah terduga.
Dengan datang tiba-tiba.
Bagaikan Bom Nuklir yang menunggu detik demi detik untuk menjalankan aksinya.
Membunuh setiap manusia disekitarnya.
Menciptakan ledakan yang mendalam dalam setiap menitnya
Tak terhitung pasti berapa hektar tanah yang menjadi korban aksi Bom itu.
 
Hingga menciptakan luka mendalam.
Perih yang terasa nyeri
Hingga memilih mati.
Dan pergi ikut bersama kobaran api.
 
Saat aku mengetahui siapa dirimu sebenarnya dalam kehidup ini.
 
Karya: S.J

Kamis, 11 Januari 2018

Siswa SMKN 9 Sudah Suntik Difteri

JAKARTA - Seluruh siswa SMK Negeri 9 Jakarta melakukan Suntik Vaksin Difteri (10/01). Difteri merupakan penyakit pada selaput lender pada hidung serta tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini dapat menimbulkan lapisan tebal berwarna abu-abu pada tenggorokan sehingga dapat membuat anak sulit makan dan bernapas. Bila infeksi tidak diobati, toksin yang dihasilkan oleh bakteri bisa menyebabkan lumpuh dan gagal jantung jika dibiarkan. Maka dari itu, siswa SMK Negeri 9 melakukan penyuntikan ini yang berfungsi untuk mencegah penyakit difteri.

Awalnya yang pertama dilakukan penyuntikan ini pada (15/12) untuk kelas XI. Kemudian dilanjutkan pada (10/01) untuk kelas X dan XII.

Penyuntikan dimulai pukul 09.00 WIB. Setelah mendapat panggilan untuk setiap kelas.
Berbagai macam ekspresi ditunjukan oleh siswa-siswi yang telah selesai disuntik, Ada yang 'biasa aja' dan bahkan ada yang sampai menangis karena menahan rasa nyeri di lengan.
"Karena sudah biasa disuntik sejak kecil, saya merasa 'biasa saja'. Rasanya disuntik memang sakit pertamanya tetapi akan kembali normal" ujar Pricilia saat ditemui setelah disuntik.

Penyuntikan ini mendapat tanggapan positif dari berbagai warga sekolah. Menurut mereka, sangat bagus dan penting.
 "Suntik difteri bagi saya sangat penting. Karena yang dilihat dari internet, difteri memang penyakit yang berbahaya" ujarnya kembali.

Imunisasi difteri tidak hanya dilakukan satu kali tetapi beberapa kali setiap bulan ataupun tahun. Imunisasi ini dilakukan untuk melindungi dan mencegah selurug siswa dari penyakit berbahaya.

-ES
 

 
Menu :