“Bapak!”Andin
masuk ke dalam rumah dan langsung mencari bapaknya yang saat itu sedang makan
sendirian di dapur.
“Ada
apa, Nak? Kenapa teraik-teriak, ini sudah malam.
Kamu dari mana?” tanya bapaknya lembut.
“Udahlah,
aku dari mana itu enggak penting, bukan urusan bapak juga! Yang penting
sekarang, aku mau beli HP baru!”
“Loh,
kok tiba-tiba mau beli HP baru. HP kamu saja itu masih bagus, masih bisa
digunakan.”
“Masih
bagus apa, sih, pak? Orang udah jelek dan gembel begini, banyak lakban di
mana-mana, enggak ada kameranya, enggak bisa internetan, cuma bisa nelpon sama
sms doang. Aku tuh pengen punya HP bagus, Pak. Kayak temen-temen aku!”
Bapak menenggak segelas air putih
lebih dulu, lalu berkata, “Tapi bapak
enggak punya uang, mau beli HP uangnya dari mana, Nak?”
“Ya
bapak kan kerja, masa iya enggak punya uang sama sekali!” kata
Andin sambil berjalan keluar dari dapur menuju ruang tengah dan duduk di sofa
dengan tangan yang dilipat di depan dada.
![]() |
Sumber Gambar |
Bapak pun menyusul anak
gadisnya itu ke ruang tengah. “Bapak cuma
tukang becak, kamu tahu itu, Nak. Penghasilan bapak sudah bisa buat makan pun, bapak
sudah bersyukur. Itupun bapak tabung sebagian untuk biaya sekolah kamu.”
“Ya
makanya bapak cari kerja lain kek, jangan cuma jadi tukang becak!”
kata Andin. “Aku tuh capek tahu nggak
sih, Pak! Aku tuh sebenernya capek hidup miskin kayak gini. Aku capek hidup
sama bapak! Gara-gara bapak miskin aku sering dihina temen-temen aku, gara-gara
bapak miskin, aku enggak bisa kayak temen-temen aku!”
Tanpa Andin sadari, bapaknya hanya
bisa mendengarkan segala keluh kesahnya itu sambil sesekali mengelus dadanya,
bersusah payah menahan air matanya, meskipun setetes dua tetes berhasil lolos
membasahi pipinya. Tapi, dengan cepat bapak mengusapnya.
“Dan
satu lagi, ya, Pak! Gara-gara bapak miskin, ibu jadi meninggal karena bapak
enggak bisa biayain pengobatannya! Semuanya itu gara-gara bapak!” kata
Andin. “Percuma aku punya bapak, kalau
hidup aku selalu miskin kayak gini! lebih baik aku itu nggak punya bapak!”
Andin tidak tahu,
dibalik keriput wajah bapaknya, tersimpan sebuah kesedihan mendalam. Bapak
ingin menangis, tapi rasanya bapak sudah tidak pantas untuk menangis.
Andin tidak sadar, walaupun bapak
hanya tukang becak, tapi bapak bisa membiayai sekolahnya dari SD. Dari kedua
kaki yang tadinya kuat dan tegak, sampai sekarang sudah renta dan bahkan rasa
nyeri sering melanda urat-urat kakinya karena bertahun-tahun ia mengayuh
becaknya. Tapi, bapak tidak pernah menyalahkan Andin. Bapak tidak pernah merasa
bahwa biaya sekolah dan kebutuhan Andin selama ini adalah beban untuknya.
Dan satu lagi, bapak melakukan itu
semua tanpa pamrih.
Bapak tidak pernah menyuru Andin
menyuci pakaiannya. Bapak tidak pernah menyuru Andin membereskan rumah. Bapak
tidak pernah menyuru Andin mencari nafkah untuk membantu keuangan mereka. Yang
bapak inginkan hanya satu. Tugas Andin hanya belajar. Supaya kelak, Andin
menjadi orang yang seribu kali lebih baik dari bapak. Tapi Andin, malah
menyalahkan bapak atas semua masalah hidupnya. Andin seharusnya tahu kalau
bapak selama ini sedih. Tapi dia memilih untuk diam dan berusaha agar Andin tidak
tahu kesedihannya.
[.]
Hari ini hari Senin.
Seharusnya pagi ini Andin sudah sarapan dan bersiap berangkat sekolah. Namun,
hari sudah semakin siang, Andin belum keluar juga dari kamarnya. Padahal, bapak
sudah menyiapkan sarapan.Bapak pun memutuskan untuk menghampiri Andin di
kamarnya.
“Andin, ini sudah siang lho. Kamu enggak
sekolah, Nak?” panggil bapak, sambil mengetuk
pintu kamar Andin.Tidak ada jawaban dari dalam, sehingga bapak kembali mengetuk
pintu dan memanggil, “Andin, kamu belum
bangun, ya, Nak?”Tidak ada jawaban juga, akhirnya bapak memutuskan untuk
masuk ke dalam. Dan ternyata, Andin memang belum bangun.
“Andin,
kamu enggak sekolah, Nak?” tanya bapak, sambil
menepuk bahu Andin.
“Duh,
bapak ganggu aja deh! Aku enggak mau sekolah, kalau bapak enggak mau beliin HP
baru!” jawab Andin ketus.
“Masya
allah Andin, bapak harus gimana, bapak enggak punya uang, Nak.”
“Aku
enggak peduli, Pak! Pokoknya aku itu enggak mau sekolah sebelum bapak janji mau
beliin HP baru!”
“Bapak
harus janji supaya kamu mau sekolah, begitu Nak?”
Andin menyingkap selimutnya sampai
perut.
“Iya!
Bapak harus janji! Tapi enggak cuma janji aja, bapak harus bener-bener beliin
aku HP baru yang bagus!”
Bapak terdiam sejenak. Dahi
keriputnya berkerut terlihat sedang berpikir. Sedetik kemudian, kedua sudut
bibirnya terangkat ke atas. Bapak tersenyum. “Iya, Nak, bapak janji akan beliin kamu HP baru. Tapi kamu harus
sekolah ya, Nak?”
[.]
Sejak saat itu, bapak
mulai bersusah payah mengumpulkan uang untuk membelikan Andin ponsel baru. Sekarang,
bapak tidak hanya bekerja sebagai tukang becak saja, tapi berbagai pekerjaan
kini ia lakukan, yang penting halal dan hasilnya bisa ia tabung.
Pagi sampai jam sebelas bapak narik
becak, lalu dari jam satu sampai jam lima sore, bapak menjajakan air mineral
keliling di jalanan besar, atau di terminal. Dan dari jam tujuh sampai jam
sepuluh malam, bapak menjadi tukang parkir di sebuah supermarket.
Semua pekerjaan itu
telah bapak jalani selama tiga bulan terakhir ini. Dan karena bapak sering
pulang malam, kini kesehatan bapak mulai menurun. Bapak jadi sering batuk-batuk
dan merasakan sakit kepala yang hebat. Selain itu, Andin juga jadi sering
memarahi bapak, karena saat dia pulang ke rumah, tidak pernah ada makan malam
lagi seperti biasa.
Malam itu, bapak pulang dalam
keadaan batuk-batuk. Saat bapak masuk ke rumah, di dalam Andin sedang menonton
TV sambil nyemil makanan ringan yang bungkusnya berserakan ke lantai.
“Anak
bapak kok belum tidur, Nak?” tanya bapak, sambil
berjalan menuju dapur ingin mengambil segelas air minum. Andin mengangkat
punggungnya dari sandaran, lalu duduk tegak. Sambil melempar bungkus makanan
ringan terakhirnya, Andin berkata dengan ketus, “Gimana bisa tidur coba, kalau aku aja belum makan dari siang.”
Bapak kembali dari dapur, lalu
berjalan mendekati Andin sambil terbatuk, “kenapa
belum makan? Bapak kan sudah sediakan telur, Nak.”
“Bapak,
aku tuh bosen makan sama telur terus. Lagian, bapak ke mana aja, sih, setiap
hari pulangnya malem terus?” kata Andin, lalu dia berdiri. “Bapak capek
ngurusin aku?”
“Ya
Allah, Nak, kenapa kamu berpikiran seperti itu? Bapak tidak pernah sekalipun
capek mengurus kamu,” kata Bapak pelan dan
sesekali terbatuk. “Bapak pulang
malam setiap hari, karena bapak harus
kerja, Nak. Kamu kan tahu sendiri, bapak sudah janji mau beliin kamu HP baru.”
“Alah,
jangan sok ungkit janji itu lagi, deh, Pak. Ini tuh udah tiga bulan, Pak.
Tapi mana? Bapak belum juga beliin aku
HP baru,” kata Andin ketus, sambil melipat kedua
tangannya di depan dada.
“Sabar,
Andin. Bapak janji, bapak akan belikan kamu HP baru. Tapi bapak kumpulkan
uangnya dulu, kamu bisa kan bersabar?”
“Jadi
bapak beneran akan menepati janji bapak?” tanya
Andin. Bapak mengangguk sambil tersenyum.
“Iya,
Nak. Bapak janji.”
“Kalau
gitu, aku kasih bapak waktu dua minggu lagi untuk menepati janji bapak,” kata
Andin.
Bapak mengernyit tidak percaya.
Kedua bola matanya menatap Andin dengan sendu. Seulas senyumnya menghilang
detik itu juga.“Kalau dalam waktu dua
minggu, bapak enggak bisa belikan aku HP baru, aku akan berhenti sekolah, Pak.
Karena percuma aku sekolah. Aku malu. Temen-temen selalu hina aku. Selalu
bilang aku enggak modal lah, minjem HP dia terus lah. Bapak tega lihat aku
dihina terus seperti itu?”
Bapak terdiam.
[R.A]- [Bersambung]
0 komentar:
Posting Komentar